1. Trilogi Merdeka
Trilogi Merdeka dapat dikatakan sebagai film yang paling tepat untuk
ditonton saat perayaan Hari Kemerdekaan. Mengapa? Karena film ini
benar-benar menyuguhkan kisah mengenai perjuangan bangsa Indonesia
melawan penjajahan.
Sutradara: Yadi Sugandi
Pemain: Darius Sinathrya, Lukman Sardi, Donny ALamsyah, Teuku Rifku
Wikana, Rahayu Saraswati, Astri Nurdin
Studio: Media Desa Indonesia dan Margate House
Tahun rilis: 2009, 2010, 2011
2. Nagabonar Jadi 2
Tidak ada yang lebih baik dari menyaksikan film ini saat merayakan
detik-detik kemerdekaan Indonesia. Film terlaris tahun 2007 yang
merupakan sekuel dari film terdahulunya, Nagabonar (1987) ini masih saja
terasa fresh walaupun disaksikan berulang kali. Menyaksikan film ini
tidak membutuhkan energi dan konsentrasi penuh karena pada dasarnya film
ini dikemas dengan sederhana, dengan plot yang simpel dan segudang joke
yang menyegarkan. Sang legenda, Nagabonar, kembali diperankan dengan
sangat brilian oleh Deddy Mizwar, didampingi Tora Sudiro yang berperan
sebagai Bonaga, anak laki-lakinya yang telah berubah menjadi pengusaha
sukses di Jakarta.
Nagabonar tentu saja sudah tidak lagi berkutat dengan perjuangannya
melawan tentara Jepang. Kali ini, ia berusaha melawan perubahan dan
penyimpangan yang terjadi di tubuh Indonesia, di mana para pahlawan
tidak lagi dihormati dan dihargai jasa-jasanya. Generasi muda Indonesia
banyak melupakan dasar-dasar nasionalisme yang membuat mereka berhenti
memperjuangkan kemerdekaan mereka-di kondisi dan dengan cara mereka
sendiri.
Film ini dianggap sebagai film yang berhasil menyentil sisi sentimentil
setiap orang yang menyaksikannya-khususnya mengenai nationality matter.
Anda akan dibuat tertawa terbahak-bahak, menitikkan air mata, atau
menggeram kesal saat mengikuti setiap adegan di film ini.
Sutradara: Deddy Mizwar
Pemain: Deddy Mizwar, Tora Sudiro, Sandra Dewi, Wulan Guritno, Lukman
Sardi, Uli Herdinansyah, Darius Sinathrya, Michael Muliadro
Studio: Demi Gisela Citra Sinema
Tahun rilis: 2007
3. Denias: Senandung di Atas Awan
Film yang satu ini juga sedikit banyak akan mengilik sisi nasionalisme
penontonnya. Berkisah mengenai perjuangan seorang anak di pedalaman
Papua untuk mengejar pendidikan, film ini menjabarkan begitu banyak
fakta mengenai keadaan pendidikan Indonesia di pulau paling timur
Indonesia tersebut.
Bukan Alenia Pictures namanya jika tidak memberikan makna mendalam di
tiap filmnya. Begitu juga pesan yang terkandung di dalam film ini.
Walaupun dikemas untuk dinikmati keluarga, film ini sebenarnya berisi
pesan penting yang ingin disampaikan kepada setiap orang yang
menyaksikannya: ketidakmerataan pendidikan dan fakta bahwa belum semua
anak Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak.
Film ini berhasil lulus seleksi penjurian untuk kategori Film Asing
penghargaan Academy Awards ke-80 tahun 2008 lalu.
Sutradara: John De Rantau
Pemain: Mathias Muchus, Nia Zulkarnaen, Ari Sihasale, Macella Zalianty
Studio: Alenia Pictures
Tahun rilis: 2006
4. Batas
Film yang satu ini digarap tanpa main-main. Lihat saja deretan pemeran
dan kru yang turut andil di dalamnya. Disutradarai Rudi Soedjarwo, film
ini seakan semakin menunjukkan "taringnya" di bawah tangan dingin Slamet
Rahardjo sebagai penulis naskah.
Film ini mengangkat kehidupan TKI Indonesia di perbatasan daerah
perbatasan Indonesia-Malaysia, Entikong. Di sana, tokoh Jaleswari
(Marcella Zalianty), seorang guru yang meninggalkan kehidupannya yang
nyaman di Jakarta untuk membereskan permasalahan pendidikan di Entikong,
menemukan banyak fakta baru mengenai TKI Indonesia yang ternyata hidup
dalam keterbatasan dan kemalangan. Belum lagi, kondisi pendidikan di
daerah itu yang sangat memprihatinkan, membuat Jaleswari memutuskan
untuk melakukan sesuatu demi (sebagian kecil) sesama saudaranya di
negara tercinta Indonesia.
Satu lagi film berbobot yang patut Anda tonton!
Sutradara: Rudi Soedjarwo
Pemain: Marcella Zalianty, Arifin Putra, Ardina Rasti, Jajang C. Noer,
Piet Pagau
Studio: Keana Production
Tahun rilis: 2011
5. Gie
Film ini merupakan salah satu film favorit saya. Membaca judulnya, sudah
pasti semua orang bisa menebak jika film ini terinspirasi dari kisah
hidup aktivis keturunan Tionghoa, Soe Hok Gie. Film ini mengisahkan
kehidupan Gie mulai dari masa remaja, duduk di bangku kuliah, hingga
perjuangannya melawan pemerintahan Presiden Soekarno yang saat itu
berkaitan erat dengan PKI.
Sikap dan pemikiran Gie tertuang di buku hariannya yang kemudian
diterbitkan dengan judul "Catatan Seorang Demonstan". Dari buku itulah,
Riri Riza dan Mira Lesmana mengolahnya dalam wujud visual. Menyaksikan
film ini seakan ikut merasakan perjuangan Gie dalam mengusahakan
keadilan dan menyuarakan aspirasi rakyat, khususnya dari kalangan
mahasiswa. Tidak ada yang lebih tepat daripada menyaksikan film ini di
hari kemerdekaan Indonesia.
Sutradara: Riri Riza
Pemain: Nicholas Saputra, Wulan Guritno, Lukman Sardi, Sita Nursanti,
Jonathan Mulia, Donny Alamsyah, Robby Tumewu
Studio: Mirles Pictures
Tahun rilis: 2005
6. King
Another great movie from Alenia Pictures! Kali ini, berkisah mengenai
cita-cita seorang anak untuk dapat menjadi pebulutangkis nasional. Dalam
segala keterbatasan dana yang dimiliki keluarganya, Guntur (Rangga
Raditya), tidak pernah berhenti bermimpi untuk dapat menjadi atlet
profesional yang akan membela negara tercintanya di dunia internasional,
seperti pebulutangkis idolanya, Liem Swie King.
Film ini memang dibuat terinspirasi oleh prestasi yang ditorehkan Liem
Swie King untuk Indonesia di masa-masa kejayaan buku tangkis Indonesia
tahun 1980-an. Tidak hanya mengajak anak-anak Indonesia merajut mimpi,
film ini juga menyodorkan pesan mulia mengenai rasa nasionalisme yang
muncul di dada seorang anak yang hidup dengan sederhana. Bagaimana
dengan Anda?
Sutradara: Ari Sihasale
Pemain: Rangga Raditya, Lucky Martin, Surya Saputra, Ariyo Wahab, Wulan
Guritno
Studio: Alenia Pictures
Tahun rilis: 2009
7. Tanah Air Beta
Ingatkah Anda dengan rumah produksi Alenia? Rumah produksi yang
didirikan pasangan suami-istri Ari Sihasale dan Nia Zulkanaen ini
menjadi angin segar untuk dunia perfilman Indonesia karena selalu
menyajikan film-film keluarga yang berkualitas dan sarat amanat. Salah
satunya adalah Tanah Air Beta yang mengangkat kehidupan keluarga yang
terpisah akibat pelepasan Timor Timur dari Indonesia pada tahun 1998
silam.
Nilai nasionalisme di film ini sangat terasa saat salah satu tokoh
utamanya, Tatiana (Alexandra Gottardo), memilih untuk mengungsi ke
Kupang, NTT, bersama anak perempuannya, Merry (Griffit Patricia), karena
tetap ingin menjadi bagian dari RI. Keputusannya itu harus dibayar
cukup mahal karena harus berpisah dari anak laki-lakinya yang masih
berada di Timor Timur.
8. Garuda di Dadaku
Film keluarga yang satu ini terasa begitu sarat dengan nilai
nasionalisme saat si tokoh utama, Bayu (Emir Mahira), seorang anak yang
baru berusia 11 tahun, memiliki keinginan kuat untuk menjadi seorang
pemain sepak bola profesional dan bermain untuk membela negaranya di
kancah internasional. Konflik di film ini memang tidak begitu kompleks
dan plotnya pun sangat sederhana. Namun, itu semua tidak mengurangi
makna mendalam yang ingin disampaikan sang sutradara, Ifa Isfansyah,
mengenai nilai-nilai nasionalisme.
Jika Anda berpikir ini adalah film yang hanya cocok disaksikan
anak-anak-karena pemeran utamanya adalah anak-anak dan plot yang
disajikan terlalu sederhana dengan konflik klise yang menguji
persahabatan, sebaiknya berpikir ulang. Pada dasarnya, semua film
keluarga dapat disaksikan semua kalangan, tanpa terkecuali.
Rencananya, film ini akan dibuat sekuelnya dan produksinya sudah
berlangsung sejak Juli lalu.
Sutradara: Ifa Isfansyah
Pemain: Emir Mahira, Aldo Tansani, Marsha Aruan, Ikranegara, Ari
Sihasale, Maudy Koesnaedi
Studio: Sbo Films Dam Mizan Productions
Tahun rilis: 2009
Film ini terasa sangat spesial karena mengambil latar di Atambua, NTT.
Tentunya, tidak banyak atau bahkan belum ada film yang mengangkat
kehidupan masyarakat Atambua. Sebuah tayangan yang cukup menghibur dan
juga sangat edukatif.
Sutradara: Ari Sihasale
Pemain: Alexandra Gottardo, Griffit Patricia, Lukman Sardi, Ari Sihasale
Studio: Alenia Pictures
Tahun rilis: 2010
9. Minggu Pagi di Victoria Park
Film ini mengangkat kisah mengenai nasib tenaga kerja wanita (TKW)
Indonesia di Hong Kong. Judul "Minggu Pagi di Victoria Park" merujuk ke
tradisi para TKW Indonesia yang memang sering berkumpul di Victoria
Park, sekadar berbagi cerita mengenai kehidupannya masing-masing. Tidak
banyak atau bahkan baru kali ini ada film yang mengangkat kehidupan TKW
Indonesia, yang pada kenyataannya sering mendapatkan perlakuan
diskriminasi dari negaranya sendiri.
Menyaksikan film ini membuat saya merenungkan banyak hal, termasuk fakta
bahwa para TKW tersebut berada dalam kondisi yang tidak memiliki
pilihan lain kecuali menjalankan hidup mereka di negara orang: suka
ataupun tidak suka. Melalui film ini, banyak hal yang bisa kita petik,
salah satunya menumbuhkan rasa empati terhadap mereka dan berusaha
menghargai perjuangan mereka untuk bertahan hidup. Yes, they belong to
our country. Sudah seharusnya mereka dihargai sepatutnya, seperti yang
tertulis di pintu kedatangan terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta: Selamat
Datang Pahlawan Devisa.
Sutradara: Lola Amaria
Pemain: Lola Amaria, Titi Sjuman, Donny Alamsyah, Donny Damara,
Distributor: Pic[k]lock Production
Tahun rilis: 2010